“Beda Hugo Chavez dengan SBY”

Assalamu’alaikum wr wb,

Bismillahirrahmanirrahim…

 

Dear BroSis, tergelitik rasanya untuk ikut berkomentar setelah membaca “Yahoo News” yang memberitakan bahwa Amerika menyambut dengan riang gembira kematian salah satu musuh bebuyutannya sang tokoh kharismatik presiden Venezuela Hugo Chavez.

Persis seperti maling/rampok yang kegirangan setelah tahu pemilik rumah yang jadi incarannya sudah tidak ada di tempat.

Begitu kuatnya pendirian dan sikap tegas dari Hugo Chavez yang menentang habis-habisan imperialisme Amerika di negaranya, semua aset-aset kekayaan negara Venezuela dikuasi sepenuhnya oleh negara dan untuk kepentingan rakyatnya, 

“Saya katakan kepada Anda sekarang: kami tidak akan mengakui keputusan apapun dari ICSID (lembaga Arbitrase Dunia untuk penyelesaian sengketa investasi),” kata Chavez dalam pidato yang disiarkan stasiun pemerintah televisi Venezuela beberapa waktu yang lalu. Bahkan Chavez pun kembali menyatakan bahwa Exxon menggunakan kesepakatan yang tidak adil di masa lalu untuk merampok sumber daya Venezuela. “Mereka itu tidak bermoral. Bagaimana bisa mereka mencuri selama 50 tahun? Siapa yang berani meluncurkan kegilaan ini tanpa dasar? Mereka ingin US$12 miliar, uang dari mana, Teman?” “Kami tidak akan tunduk di depan imperialisme dan antek-anteknya. Paham itu. Mereka berupaya melakukan yang mustahil, yaitu dengan menyuruh kita membayar mereka. Kami tidak akan membayar apapun ke mereka,” lanjut Chavez ketika itu.

Jadi miris jika membandingkannya dengan keadaan negara kita tercinta Republik Indonesia yang saat ini sang presidennya masih hidup dan masih seger buger…tapi malah membiarkan atau malah  masih memberi jalan bagi perampok-perampok seperti Amerika menjarah dengan rakus dan serakahnya kekayaan negara kita sampai ke akar-akarnya, sebutlah seperti Freeport yang telah membuat berbukit-bukit yang kaya raya di tanah Papua menjadi lembah-lembah tak berguna setelah disedot sampai habis kekayaannya yang sudah berjalan berpuluh tahun hingga kini dan tak terhitung perusahaan-perusahaan Amerika yang lainnya.

GambarGambar

 

Oh malang benar Indonesiaku, kapan ya kita punya pemimpin yang keras dan tegas terhadap bangsa luar yang berani mengganggu kedaulatan tanah airnya, sekaligus penuh cinta dan sayang terhadap rakyatnya.

Berikut artikel berita dari Yahoo news tersebut :

Plasadana.com – Di tengah duka, ada saja orang yang bergembira. Inilah yang dialami masyarakat Venezuela setelah ditinggal mati pemimpinnya, Hugo Chavez.  Laman CNBC mengabarkan, wafatnnya Chavez membuat para pemain minyak di Amerika Serikat dan Rusia bersorak. Mereka siap memperebutkan minyak dan gas dari Venezuela yang selama ini didekap erat oleh Chavez.

Salah satu yang siap masuk gelanggang adalah ConocoPhillips. Pada 2007, perusahaan tersebut terusir dari Venezuela lantaran tidak bisa bersepakat dengan perusahaan minyak negara Petroleos de Venezuela SA (PDVSA). Padahal ConocoPhillips memiliki aset US$ 4,5 miliar.

Analis Oppenheimer & Co, Fadel Gheit, memperkirakan nilai aset ConocoPhillips di Venezuela saat ini bisa mencapai US$ 30 miliar. Dengan demikian, ConocoPhillips bisa meraih pendapatan bersih US$ 10 miliar. “Mereka paling diuntungkan setelah Chavez meninggal,” kata dia.

Presiden Direktur ConocoPhillips Ryan Lance pun optimistis potret industri minyak global bakal berubah setelah Chavez wafat. Amerika, kata dia, siap mengekspor sumber daya alam lebih banyak ke Venezuela. Data kantor Administrasi Informasi Energi Amerika (EIA), pada Desember 2012, Venezuela mengimpor produk migas 197 barel per hari dari Amerika Serikat.

Selain ConocoPhillips, pemain minyak Rusia juga bersiap masuk Venezuela. Juru bicara Presiden Vladimir Putin, Dmitry Peskov, mengatakan siap melanjutkan kerja sama ekonomi dengan Venezuela melalui kontrak minyak dan gas miliaran dolar. Dia mengatakan Putin telah mengutus Presiden Direktur OAO Rosneft, Igor Sechin, untuk memimpin delegasi Rusia menghadiri pemakaman Chavez pada  8 Maret 2013.

Rosneft memang berencana masuk ke Venezuela dengan investasi US$ 17,6 miliar. Bersama PDVSA dan perusahaan minyak Rusia OAO Lukoil dan OAO Gazprom Neft, Rosneft akan menanamkan duit tambahan US$ 36 miliar.

Chavez wafat tanggal 5 Maret 2013 pada usia 58 tahun. Tentara berpangkat letnan kolonel ini meninggal lantaran penyakit kanker. Chavez, yang mendapat julukan terhormat “commandante” ini meninggalkan Venezuela, yang bisa memproduksi minyak sebanyak 9 juta barel per hari.

Sumber : yahoo.news

 

Wassalamu’alaikum wr wb,

Semoga bermanfaat.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s